Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia

raden saleh

Seni lukis adalah sebuah kesenian yang berkembang dari ke waktu, khusunya di indonesia sendiri banyak sekali tokoh-tokoh dan juga seniman seni lukis. Perkembangan seni lukis dahulu hingga menjadi seni lukis modern mengalami banyak sekali perubahan. Dalam artikel ini akan dibahas tokoh seni lukis modern yang ada di indonesia

Tokoh Seni Lukis Modern Raden Saleh

Menempuh pendidikan seni di Eropa dan juga melakukan melukis dengan dispilin ala pelukis Barat, Raden Saleh dirinya dikenal sebagai salah satu tokoh pelopor seni lukis modern yang ada Indonesia.

Sosok Raden Saleh

Pada saat itu, ada beberapa para pelukis muda Belanda, yang pada saat itu sedang belajar, melukis bunga dan juga memperlihatkannya kepada Raden Saleh. Beberapa kumbang dan juga kupu-kupu hinggap di atasnya. Mereka pada saat itu mencemooh Raden Saleh. Merasa panas dan juga terhina, diam-diam pada saat itu Raden Saleh menyingkir dan menjauh selama beberapa hari. Karena cemas, akhirnya teman-temannya pun mendatangi rumah Raden Saleh mereka masuk dengan cara mendoprak pintu. Pada saat mereka masuk mereka menjerit “Mayat Raden Saleh” terkapae di lantai dengan berlumuran darah. Sebelum suasan bertambah panik, Raden saleh pun muncul. “Lukisan kalihan buat mengelabui kumbang san kupu-kupu , tetapi gambar saya dapat menipu manusia” ujar Raden saleh tersenyum.

Raden Saleh Tokoh Seniman

Raden Saleh sendiri merupakan tokoh seniman Indonesia pertama yang pada saat itu melukis dengan teknik disiplin Barat. Kelak yang pada akhirnya hal tersebut yang dipakai sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia hingga sekarang. Raden Saleh Syarif Bustaman sendiri lahir di Terbaya, suatu kota dekat Semarang, dari pasangan orang tua Sayid Husen bin Alwi bin Awal dan Raden Ayu Syarif Hoesen. Tahun lahir Raden saleh sendiri simpang-siur. Dalam sebuah lukisan potret diri, Raden Saleh  juga pernah menulis lahir bahwa dirinya lahir  Mei 1811. Tapi dalam sebuah surat dia sendiri pernah menyebutkan bahwa dirinya di pada tahun 1814. 

Bisa jadi hal tersebut dikarenakan pada saat dahulu di daerah Jawa sendiri saat itu berlaku hitungan kalender Jawa atau yg disebut (Saka) dan juga kalender Islam sehingga Raden Saleh agak bingung sendiri ketika harus menyesuaikan dengan hitungan kalender Masehi yang sudah ada,” kata Werner Kraus makanya ada banyak sekali perbedaan. Kurator asal Jerman yang juga mendedikasikan seperempat abad  hidupnya untuk mempelajari karya Raden Saleh. Kraus Sendiri lebih setuju tahun 1811 karena sesuai dengan data bahwa Raden Saleh pada saat itu belajar melukis pada tahun 1819 ketika berusia delapan tahun.

Belajar Melukis di Luar Negri

Guru pertama Raden Saleh sendiri adalah AAJ Payen, seorang warga Belgia yang ditugaskan pemerintah kolonial pada saat itu untuk melukis alam dan juga pemandangan di Hindia Belanda pada masa itu. Karena bakatnya, ini lag dia kemudian mendapat kesempatan memperdalam ilmunya di Belanda pada 1830. Di sana Raden Saleh sendiri belajar melukis potret pada Cornelis Krusemen dan juga lanskap pada Andreas Schelfhout. Melukis potret dan sebuah pemandangan sebenarnya kurang menarik minatnya pada saat itu. Dia melakukan hal itu  demi uang. Kegalauannya akhirnya terobati saat bertemu rombongan sirkus binatang pimpinan Henri Martin asal Paris yang pada saat itu berkunjung di Den Haag. “Saleh membuat sebuah lukisan potret diri Henri Martin. Ini juga menjadi sebuah siasat agar Henri mengizinkan Saleh datang kapan saja untuk dapat melihat binatang sirkus miliknya,” ujar Kraus. Saleh sendiri membuat banyak sketsa seperti singa dan harimau milik Martin pada saat itu. Itulah awal ketertarikannya untuk melukis kehidupan binatang. Salah satu lukisannya adalah “Lion Head”, menggambarkan bagaimana wajah seekor singa yang menatap tajam, penuh wibawa. Lukisan ini menjadi koleksi Museum Seni Rupa Kupfer Stich Kabinet di, Berlin, Jerman. Pada tahun 1839, pemerintah Belanda memberinya juga sebuah kesempatan untuk berkunjung ke negara-negara Eropa. Di Paris, Prancis, dia bertemu pelukis yaitu Horace Vernet yang mempengaruhi permainan warnanya dalam melukis. Tapi dalam hal ini juga menampilkan suasana objek lukisan dia terpengaruh pada pelukis besar aliran Romantisisme Prancis, Ferdinand Victor Eugène Delacroix. “Raden Saleh sendiri juga tidak pernah menyinggung nama Delacroix. Mungkin pada saat itu dia pernah melihat lukisan Delacroix di museum lainya. 

Gaya Lukisan Romantisme

Gaya lukisan Romantisisme karya raden saleh antara lain terlihat pada karyanya “Singa dan Ular”. Uniknya, pada usia 23 tahun setelah lukisan ini dibuat Raden  Saleh, Eugene Delacriox melukis sebuah tema yang sama, yang berjudul “Macan dan Ular”. Seniman Prancis yang pada saat itu juga cukup mempengaruhi cara melukis Raden Saleh adalah Theodore Gericault. Lukisan “Banjir di Jawa” terlihat terpengaruh dari lukisan “the Raft of Medusa” karya Gericault. Keduanya dalam lukisan ini menggambarkan suasana dramatis dimana sekelompok orang yang berusaha untuk menyelamatkan diri pada sebuah atap rumah (Raden Saleh) atau juga sebuah rakit (Gericault) dari sebuah bencana banjir besar saat itu (Raden Saleh) atau juga sebuah terpaan badai di lautan (Gericault). Pada tahun 1844 dimana ia kembali ke Belanda. Raja Willem II pada saat itu berkenan menerimanya dan juga  menganugerahi Bintang Eikenkroon. Kelak Raja Willem III akan mengangkatnya sebagai pelukis istana. Pada tahun 1851, Raden  Saleh akhirnya pulang ke Jawa, sesudah pada saat itu menikahi perempuan Eropa kaya, Nona Winkelman. Pernikahan itu namun tak bertahan lama. Raden Saleh pun bercerai dan menikah lagi dengan seorang perempuan Jawa pada saat itu. 

Sebagai Konservator

Di Jawa, Raden Saleh mendapat banyak  tugas sebagai konservator  atau yang di kenal sebagai “Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni”. Raden Saleh jugasempat mengembara ke Jawa Tengah dan juga Jawa Barat untuk melukis pemandangan dan juga potret raja dan bangsawan. Namun untuk salah satu karya yang sangat fenomenalnya adalah lukisan “Penangkapan Diponegoro” (1857). 

Penangkapan Diponegoro” (1857).

Setelah dirinya berhasil mengatur penangkapan Pangeran Diponegoro pada saat itu, Hendrick Merkus de Kock kembali pulang ke Belanda dan mendapat sebuah gelar pahlawan nasional. Untuk merayakan hal tersebut dan menandai kesuksesan itu, de Kock m meminta untuk Cornelis Kruseman –guru Raden Saleh– untuk dapat membuatkan lukisan dirinya.“Raden Saleh yang pada saat itu ada di sana saat Kruseman menggambar De Kock. Bayangkan bagaimana saat itu perasaan seorang pemuda asal Jawa menyaksikan sendiri bagaimana orang yang telah menangkap pangeran di Diponegoro dengan bangga digambar saat itu hadapannya,” ujar Kraus. Bukan hanya itu. De Kock sendiri meminta kepada Nicolaas Pieneman untuk dapat membuat lukisan penangkapan Diponegoro untuk menandai sebuah keberhasilan karier militernya. Pieneman sendiri menggarap lukisan berjudul “Penaklukan Diponegoro”. Karena lukisan tersebut membuat Raden Saleh dengan nama “Penangkapan Diponegoro”, yang dia berikan kepada Raja Willem III. Namun pada masa nya hal ini yang dilakukan Raden Saleh mungkin masih jauh jika dikaitkan dengan persoalan nasionalisme. Tapi kita tau saat itu dia telah menunjukkan sesuatu antikolonialisme ujar. Pada tahun 1857, Saleh sendiri kembali berkunjung ke Eropa dan pada saat itu melawat ke Italia. Tahun 1878  dia kembali lagi ke Jawa, dan pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 April 1880 di Bogor, Jawa Barat.

Itulah kisah dan perjalan hidup dari Raden Saleh seorang tokoh pencetus seni lukis modern, yang dimana karya-karyanya tidak hanya diakui oleh negara melainkan juga diakui dengan negara lain. Raden saleh juga membuat seni lukis yang ada sekarang sangat bervariasi. Semoga artikel ini dapat berguna untuk anda. Terima Kasih.